Di tengah gaya hidup urban yang semakin aktif, banyak individu muda di Indonesia rutin berolahraga sebelum atau setelah jam kerja untuk menjaga kebugaran dan performa fisik. Namun, tidak sedikit yang mengeluhkan tubuh terasa pegal berkepanjangan, cepat lelah, atau kurang siap saat kembali beraktivitas maupun berlatih keesokan harinya meskipun latihan dilakukan secara rutin dan terukur.
Kondisi ini sering kali berkaitan dengan proses sports recovery yang belum optimal. Aktivitas fisik intens dan latihan berulang dapat memicu ketegangan otot, kelelahan, serta peradangan ringan pada jaringan tubuh. Tanpa strategi pemulihan yang tepat, keluhan tersebut dapat menumpuk dan berdampak pada performa, konsistensi latihan, hingga risiko cedera.
Berbagai studi dalam kedokteran olahraga menunjukkan bahwa recovery yang efektif berperan penting dalam mendukung regenerasi jaringan, menjaga fungsi dan kekuatan otot, serta membantu tubuh kembali siap menghadapi aktivitas fisik berikutnya. Oleh karena itu, pemulihan bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian esensial dari program kebugaran yang seimbang bagi individu aktif masa kini.
Dalam konteks kedokteran olahraga, sports recovery lebih dari sekadar istirahat. Pemulihan mencakup proses biologis kompleks yang melibatkan sistem otot, sirkulasi darah, metabolisme, dan respon hormonal tubuh. Ketika pemulihan tidak optimal, risiko kelelahan berkepanjangan, inflamasi ringan, bahkan penurunan performa dapat meningkat.
Menurut dr. Nahum, Dipl. CIBTAC, Sp.K.O., dokter spesialis kedokteran olahraga di Seraphim Medical Center, Gading Serpong, pemulihan adalah fase penting dari keseluruhan siklus latihan.
“Tanpa fase recovery yang tepat, adaptasi otot dan peningkatan performa yang kita harapkan dari latihan justru bisa terhambat. Pemulihan yang direncanakan dan dipantau medis membantu tubuh kembali siap untuk sesi berikutnya,” jelas dr. Nahum.
Infrared Sauna adalah terapi panas yang menggunakan gelombang inframerah untuk menembus jaringan lebih dalam daripada sauna konvensional. Mekanisme ini membantu meningkatkan sirkulasi darah, memberikan relaksasi otot, dan mendukung proses penerimaan nutrisi pada jaringan yang mengalami ketegangan.
Dalam konteks recovery pasca-latihan, studi ilmiah menunjukkan bahwa sesi infrared sauna setelah latihan dapat mengurangi nyeri otot dan membantu pemulihan performa neuromuskular, dibandingkan dengan istirahat pasif saja. Infrared Sauna bermanfaat untuk:
“Infrared Sauna bekerja dengan meningkatkan suhu jaringan lebih dalam, sehingga membantu relaksasi dan pemulihan otot usai aktivitas fisik intens,” ungkap dr. Nahum.
Berbeda dengan terapi panas, Cryotherapy adalah paparan suhu dingin ekstrem dalam durasi singkat untuk memicu respons fisiologis tubuh yang mendukung kontrol inflamasi ringan dan pengurangan nyeri otot setelah latihan.
Manfaat Cryotherapy telah dipelajari dan digunakan luas untuk membantu pemulihan pasca-latihan, khususnya dapat membantu:
Menurut dr. Nahum, Cryotherapy sangat relevan bagi individu dengan intensitas latihan tinggi atau yang sedang dalam fase pemulihan cedera ringan.
“Paparan dingin membantu mengontrol inflamasi dan memberikan efek analgesik alami. Dalam konteks olahraga, Cryotherapy sering digunakan untuk mempercepat pemulihan sehingga tubuh bisa kembali berfungsi optimal dalam waktu lebih singkat,” jelasnya.
Menerapkan kedua metode ini secara terintegrasi memberikan pendekatan sports recovery yang seimbang — mengombinasikan efek relaksasi panas dan kontrol inflamasi suhu dingin. Ini memungkinkan tubuh pulih tidak hanya dari ketegangan otot, tapi juga dari respon sistem saraf dan metabolik pasca-aktivitas fisik.
“Tidak ada satu metode tunggal yang cocok untuk semua orang. Kombinasi terapi panas dan dingin dapat disesuaikan dengan kebutuhan individu, kondisi tubuh, dan tujuan kebugaran,” tambah dr. Nahum.
Sebagai bagian dari layanan kedokteran olahraga dan wellness, Seraphim Medical Center menghadirkan Infrared Sauna dan Cryotherapy dalam pendekatan medis terintegrasi. Setiap program recovery disesuaikan secara personal, dengan mempertimbangkan:
Tujuan pendekatan ini lebih dari sekadar pemulihan jangka pendek — melainkan untuk menjaga performa tubuh, mencegah risiko cedera, dan meningkatkan kualitas hidup secara berkelanjutan.
“Pemulihan bukan hanya untuk atlet. Siapa pun yang aktif bergerak, bekerja dengan tuntutan fisik, atau ingin menjaga kebugaran tubuh dapat merasakan manfaatnya, asalkan dilakukan tepat dan dipantau medis,” tutup dr. Nahum.
Sebagai unit bisnis dari Bethsaida Healthcare, Seraphim Medical Center menghadirkan pendekatan kesehatan berbasis kedokteran fungsional yang berfokus pada akar permasalahan, bukan sekadar penanganan gejala. Berlokasi di Gading Serpong, Seraphim mengembangkan layanan medis yang dirancang secara personal untuk membantu tubuh berfungsi lebih optimal, baik dalam menjaga kesehatan, mendukung pemulihan, maupun meningkatkan kualitas hidup. Pendekatan ini diwujudkan melalui tiga layanan unggulan: Wellness Center, Beauty & Aesthetic Center, serta Sports & Rehabilitation Center, yang saling terintegrasi sebagai bagian dari gaya hidup sehat modern.
Media Contact
Seraphim Medical Center
Gading Serpong, Tangerang
Telp/WhatsApp: 0822 5011 1999
Email: info@seraphimmedicalcenter.com